Nasi ditanak meninggalkan kerak
Dengan santan ia melunak
Parutan kelapa muda menambah enak
Sisasisa cinta tak selalu nista
Adakalanya berujung bahagia
Sama dengan kerak nasi
Kriuknya membawa kita ke Surakarta
Membuka memori cinta suci
Kupersembahkan sekotak kerak pengganti perak
Ditemani kopi luwak
Dua hati bergejolak
Enak, Kak?
Miss Rima
Kebayoran Lama 22 Jan 2010
Nasi ditanak meniggalkan kerak
Dengan santan ia melunak
Parutan kelapa muda menambah enak
Sisasisa cinta tak selalu nista
Adakalanya berujung bahagia
Sama dengan kerak nasi
Kriuknya membawa kita ke Surakarta, Jogjakarta
Membuka memori cinta suci
Kupersembahkan sekotak kerak pengganti perak
Ditemani kopi luwak
Dua hati bergejolak
Enak, Kak?
PS. Satu lagi contoh puisi yang kalah kalau diikutkan lomba haha..
Lama aku mengenalmu, Cinta
Mencicipi aneka rasa
Rasa yang kadang membuatku tak berdaya
Lupa pada Sang Pencipta
Cinta,
Kau begitu hangat selimuti hati
Akupun menerima tanpa alibi
Apa yang kau beri?
Hanya sepi, benci
Lalu aku berkelana
Mencipta daun kata cinta
Kirim ke surga dunia
Mengapa kau diam saja?
Karyaku jadi siasia
Daun kata terbuang percuma
Cinta,
Ma’af kutelah selingkuh dengan dia
Kini aku kembali cicipi cinta sejati
Tanpa dibuai janji duniawi
Tetapi pasti
Demi kebahagiaan nan abadi
Kebayoran Lama, 15/1/10 23:16
PS. Dikirim saat lomba apa gitu lupa :D, dan lagi-lagi masih kalah.
Berteman sepi di siang hari
Kutuliskan puisi ini
Setiap hari sepi menyelimuti hati
Hanya buku-buku yang menemani
Kesendirian ini
Cinta cuma datang dan pergi
Dan sejenak menghampiri
Lalu pergi lagi
Saya yakin suatu saat nanti
Cinta kan datang menghampiri
Menemani hati yang dirundung sepi
Yang kan menemaniku sampai mati
Ternyata memang kesepian bisa jadi teman
Dan sekarang saya sedang bercakap-cakap dengan kesepian
Yang bisa menghasilkan tulisan
Berteman sepi sambil menunggu jawaban
Jawaban dari pertanyaan yang tak pernah ku ungkapkan
Dan sekarang saya jatuh cinta dengan kesepian
Karena dia bisa jadi teman
Teman abadi dalam kehidupan
Teman setelah Tuhan
Teman setelah Kawan
Teman setelah buku-buku usang nan sarat pengetahuan
Sayang datang bertandang
Gelap mata memandang
Terbang menghilang
Kapan pulang?
Kembalilah ke kandang
Jadilah pohon rindang
Sejukkan semua orang
Menjelma bintang terang
Terangi arang benderang
Wahai pengembara cinta
duduk dan istirahatlah sejenak
renungi kealfaan diri
kembali pada cinta Illahi Robbi
Sadarlah bahwa cinta sejati yang kau cari
tersembunyi dibalik langit ini
mendongaklah
melangkahlah searah
agar jalanmu terarah
menuju cinta Allah
Wahai pengembara cinta
semoga lebih dicintai dan mencintai Allah
itulah sejatinya mencinta dan dicinta
tak kan ada cinta yang mampu menandinginya
cinta dunia hanya semu belaka
kadang menyisakan luka
cinta Allah imbalannya surga
pilih yang mana?
luka atau surga
Seraut wajah teduh
Membuat jantung bergemuruh
Senjatanya sungguh ampuh
Melemaskan sendi-sendi yang rapuh
Mengayuh sampan hingga penuh peluh
Di dermaga cintanya caku berlabuh
Dibawah pohon cintanya tempat berteduh
Hapuskan keluh
Berjalan seiring gering
Diiringi denting ranting
Gemerisik dedaunan kering
Jiwa meronta ingin bersanding
Untaian harapan menggelinding
Mimpi-mimpi indah berkeliling
Sejukkan jiwa disetiap denting jam dinding
Disamping si teduh yang langsing
Diriku bernyanyi nyaring
Begitu dalam terpendam rasa cinta yang belum saatnya
Lama...
Terkubur dalam hati sunyi
Tak bisa kupungkiri
ledakan magma cinta mengobrak-abrik kalbu
Sendu...
Rem cakram berdecit setiap waktu
Menahan setiap gerak bibir agar tetap bisu
Apakah keliru?
jika hanya kugantungkan semua rasa di dinding kalbu
akhirnya terjatuh satu persatu
dibawa angin lalu
Menunggu waktu
bertemu sosok penyejuk kalbu
tempat melabuhkan cinta tertahan
penambat jangkar rindu beku
Dan bercumbu di pelaminan kebahagiaan
Rasakan indahnya anugerah Tuhan
Kapan?
Kini yang tersisa hanyalah kepingan pengharapan
Menahan hasrat berduaan
Sampai menemukan cahaya bulan
Cinta tertahan kan tergoyahkan
Berlari mengejar mimpi
Simpan misteri
Mencipta puisi
Nikmati semua yang terjadi
Seperti makan nasi
Rasa cinta didekap
Santap rindu dengan lahap
Suka duka terlalap
Jujur aku kalap karena sempat tertangkap
Tertunduk lesu mata menatap
Tangis meratap tawa terhisap
Aku tergagap bercakap
Misteri pun telah terungkap
Namun tak tersingkap, dia tetap gelap
Tak kuasa menyingkap
Hanya berharap melihat cahaya bulan diatas atap
Sirami hati gelap dengan gemerlap